7 Keunggulan Yang Dimiliki Kamera Full Frame
Bagi para penggiat dunia video dan foto profesional, kebanyakan dari mereka cenderung memilih kamera full frame dibanding APS-C. Simpelnya, karena kamera full frame memakai sensor yang berukuran sama dengan satu frame film 35mm tradisional, yakni 36 x 24 mm. Sensor ini lebih besar dari kamera bertipe APS-C yang memiliki sensor berukuran 22 x 15 mm.
Lantas, apa keuntungan memakai kamera bersensor full frame dibandingkan dengan kamera sensor APS-C? Berikut admin jabarkan 7 kelebihan kamera dengan sensor full frame :
- Memiliki sensor yang lebih besar dan lebih baik

Baca Juga: Mengenal Kamera Lumix S1H, Mirrorless Pertama Yang Diakui NETFLIX
Dibandingkan dengan kamera yang menggunakan sensor APS-C, kamera full frame memiliki sensor yang lebih besar. Semakin besar sensor, semakin besar piksel yang dimiliki, terang laman Adorama Camera. Piksel yang lebih besar dapat menangkap lebih banyak informasi warna dan cahaya masuk serta lebih sedikit noise dibanding piksel yang lebih kecil.
Itulah mengapa, ISO tinggi bekerja lebih baik pada kamera full frame berkat sensornya yang besar. Keuntungan lain ialah bisa membedakan variasi warna yang lebih halus serta menangkap rentang dinamis yang lebih besar. Hasil akhirnya akan meningkatkan akurasi, realisme dan vibrant pada foto.
- Biasanya, memiliki resolusi yang lebih besar

Biasanya, kamera full frame memiliki resolusi yang lebih besar dari kamera APS-C.
Dengan ini, kita bisa memotret dan mengambil video dalam keadaan pencahayaan yang minim. Selain itu, sensor full frame bisa menangkap detail yang halus, rentang dinamis yang besar, gambar yang lebih tajam dan mengurangi noise dalam foto, ungkap laman Adorama Camera. Lebih unggul dari kamera APS-C!
- Tidak ada crop factor seperti di APS-C dan MFT

Ada banyak pilihan lensa yang tersedia untuk kamera full frame. Dan tidak ada crop factor seperti di kamera APS-C. Misal, jika kita memasang lensa dengan panjang 24 mm, maka hasil akhirnya pun akan tetap 24 mm. Namun, jika dipasang di kamera APS-C, maka akan berubah jadi 36 mm karena ada crop factor 1,5 kali.
Begitu pula jika kita memakai lensa 50 mm, di full frame panjangnya tidak berubah, tetapi di kamera APS-C akan menjadi 75 mm. Simpelnya, dengan crop factor, lensa akan berubah menjadi lebih panjang. Lensa ultra-wide akan menjadi wide dan lensa wide akan menjadi normal. Dengan memakai full frame, hal ini tidak akan terjadi!
Editor Pick :
6 Situs download Template After Effect Gratis 2022
Tugas Dan Tanggung Jawab Seorang Sutradara
Teknik Shooting Video Menggunakan Green Screen
- Menghasilkan bokeh yang lebih halus

Laman Borrow Lenses membuat perbandingan antara bokeh yang dihasilkan oleh tiga kamera, yakni Canon 5D Mark III (full frame), Fuji X-E2 (APS-C dengan crop factor 1,5x) dan Olympus OM-D E-M1 (Micro Four Thirds/MFT dengan crop factor 2x). Di antara tiga kamera itu, mana yang mempunyai bokeh paling halus?
Lalu, Borrow Lenses mencoba memotret objek yang sama dengan focal length dan aperture yang sama. Hasilnya, kamera full frame dari Canon 5D Mark III memberi bokeh yang lebih halus dibanding kamera APS-C dan MFT yang memiliki crop factor. Pertimbangkan kamera full frame jika ingin bokeh yang lebih smooth.
- Noise yang dihasilkan lebih sedikit

Baca Juga: Perbedaan Editing Offline vs Online Dalam Video Dan Film
Memotret di tempat dengan pencahayaan minim membuat kita harus menaikkan ISO. Konsekuensinya, semakin tinggi ISO, semakin banyak noise yang muncul di foto. FYI, dalam fotografi, noise adalah distorsi visual yang berwujud titik-titik di gambar. Noise membuat hasil foto menjadi kurang jernih dan kurang bersih.
Kamera full frame memiliki sensor dan piksel yang besar, yang akan menghasilkan gambar dengan kualitas yang lebih baik pada ISO tinggi. Hasilnya, noise akan terlihat lebih sedikit dibanding kamera crop factor, seperti APS-C atau MFT. Bahkan, kamera full frame memiliki ISO maksimal hingga 25.600 atau lebih dengan noise yang lebih sedikit.
- Memiliki rentang dinamis yang lebih luas

Keunggulan lain dari kamera full frame adalah memiliki rentang dinamis yang lebih luas. Rentang dinamis luas bisa menangkap detail bayangan paling gelap dan detail highlight paling terang. Menurut laman Wex Photo Video, kamera dengan rentang dinamis luas bisa menangkap bayangan, midtone dan highlight lebih banyak.
Contoh nyatanya, kamera dengan rentang dinamis sempit bisa menangkap detail di area yang lebih gelap, tetapi gagal menangkap detail di area yang lebih terang, begitu pula sebaliknya. Seperti di contoh foto di atas, detail langit di foto sebelah kiri kurang terlihat dan warnanya kurang menonjol. Namun, hal ini bisa diminimalisir di kamera full frame.
- Bagian body dibuat dari bahan yang lebih berkualitas

Baca Juga: Mengenal Keunggulan Kamera Sony FX3 Si Monster Kecil Sinematik
Seperti yang kita tahu, kamera full frame memiliki harga yang lebih mahal dari kamera APS-C dan MFT. Bahan untuk membuat body kamera APS-C dan MFT biasanya dibuat dari campuran plastik dan polikarbonat, jelas laman Wex Photo Video. Sementara, kamera full frame banyak yang dibuat dari magnesium yang lebih padat.
Karena bahannya yang lebih berkualitas, kamera full frame lebih tahan terhadap cuaca, debu dan air. Namun, hal ini membawa konsekuensi tersendiri, yakni ukuran body kamera yang menjadi lebih berat dari kamera crop factor.
Nah, itulah 7 keunggulan kamera full frame dibanding kamera APS-C atau MFT. Dengan segala plus-minusnya, siapkah kamu berganti ke kamera full frame?
4 Tips Agar Produksi Film Atau Video Kamu Selesai Tepat Waktu
Sebagai seorang asisten sutradara, adalah tanggung jawab kamu untuk memastikan bahwa produksi berjalan lancar dan tepat waktu dari jadwal yang telah ditentukan sebelumnya. dalam artikel ini kami akan memberikan kamu 4 tips agar produksi film atau video kamu selesai tepat waktu.
Tapi apa yang terjadi jika DOP kamu membutuhkan waktu lebih lama dari yang diharapkan untuk mempersiapkan set sebuah adegan? apa yang akan kamu lakukan ketika sutradara menginstrusikan untuk 15 kali melakukan pengambilan gambar yang sama?
Cara untuk meminta orang bergegas adalah satu-satunya strategi yang paling tidak efektif untuk menggerakkan segala sesuatunya. Terutama karena setiap set membutuhkan proses untuk mempersiapkannya.
Berikut adalah beberapa tips untuk menjaga produksi kamu tetap cepat tanpa membuat semua orang panik dan dapat menyelesaikannya tepat waktu.
- Satu langkah didepan

Saat kamu berada di lokasi shooting, jadilah seorang yang proaktif dalam meminta setiap departemen untuk mempersiapkan setiap elemen utama atau setup yang besar dari sebelum kamu pindah set ke set berikutnya.
Misalnya, jika kamu tau akan ada shot menggunakan dolly setinggi 9meter diset berikutnya, maka kamu harus memberitahukan orang grip sebelum pindah ke set tersebut agar mereka dapat mempersiapkannya terlebih dahulu untuk mempersingkat waktu shooting.
Jaga agar jalur komunikasi tetap terjaga dengan setiap divisi dalam produksi film atau video kamu. coba untuk mengingatkan setiap saat, hal ini tidak hanya akana membuat semua orang bertanggung jawab dan berpikir kedepan, akan tetapi juga memberikan kamu informasi dari setiap divisi tentang berapa lama waktu yang mereka butuhkan untuk mempersiapkan sebuah set.
- Mintalah Estimasi Waktu, Tetapi Jangan Lupa Untuk Selalu Follow-up

Jika kamu sudah mendapatkan estimasi waktu yang dibutuhkan untuk sebuah divisi merampungkan sebuah set, jangan hanya menunggunya sampai estimasi waktu tersebut selesai, karena dapat menyebabkan produksi kamu jadi ngaret. Jadi yang perlu dilakukan adalah mengingatkan kembali sebelum estimasi waktu yang diberikan selesai.
Misalnya kamu diberikan estimasi waktu dari departemen kamera selama 15 menit untuk mereka mempersiapkan set selanjutnya. Maka, yang perlu kamu lakukan adalah ingatkan kembali saat memasuki menit ke10 dari estimasi tersebut, lalu ingatkan mereka kembalu bahwa waktunya tersisa 5 menit dari estimasi yang mereka berikan.
Baca Juga : Apa Itu Color Checker dan Bagaimana Cara Kerjanya?
- Berikan Sedikit Tekanan

Berikan sedikit tekanan pada setiap divisi adalah hal yang baik, selama kamu tidak terlalu memaksa.
Sebagai contoh, banyak DOP memiliki kecenderungan untuk mengatur-atur pencahayaan sampai dia mendapatkan settingan yang benar-benar pas atau sesaui. jika estimasi yang dia berikan sebelumnya mendekati atau meleset dari jadwal, maka katakanlah hal berikut ini :
“Oke banget ni, kayanya udah siap buat take selanjutnya. Gimana kalau aktor/talent kita bawa kesini sekarang?”
Ini adalah cara yang baik untuk mengingatkan DOP agar sadar akan waktu dan juga menjaga agar komunikasi tetap terjaga dengan baik.
- Pastikan Setiap Crew Membaca Callsheet

memberi gagasan yang jelas kepada crew tentang schedule shooting hari ini, dapat menyelaraskan semua orang untuk memiliki tujuan yang sama.
Buatlah semua orang yang ada dalam produksi kamu untuk turut serta memastikan bahwa produksi dapat berjalan dengan lancar dan tepat waktu. Jadi jangan segan meminta mereka untuk mewujudkannya.
TIPS : TRASNPARASI DAPAT MENGHUBUNGKAN TIM
Ide yang bagus jika kamu membuatkan call sheet dalam bentuk pdf dan membagikan kesuluruh anggota tim, sehingga mereka dapat mendownload dan membukanya setiap saat di smartphonennya.
Baca Juga : 10 Alat Ini Dapat Membuat Film Pendek Kamu Lebih Berkualitas loh!
Apa Itu Color Checker dan Bagaimana Cara Kerjanya?
Color checker adalah alat yang sangat berguna yang dapat digunakan dalam fotografi ataupun video untuk mengkalibrasi warna asli. Tapi apa itu color checker? dan bagaimana cara menggunakannya? yuk baca artikel ini sampai habis…
Pentingnya kalibrasi warna
Kalibrasi warna mudah dipahami tetapi sulit dikuasai. Apa itu kalibrasi warna? Yah, sesederhana namanya kalibrasi warna adalah metode untuk mengkalibrasi warna. Ada dua cara utama untuk mengkalibrasi warna yaitu secara objektif dan subjektif.
Tujuan kalibrasi warna objektif adalah untuk membuat foto sesuai dengan warna asli atau universal.
Tujuan kalibrasi warna subjektif adalah untuk membuat foto sesuai dengan warna yang Kamu inginkan. Kalibrasi warna subyektif itu mudah – kamu hana cukup menyesuaikan warna gambar sampai gambar terlihat seperti yang kamu inginkan.
Tapi bagaimana fotografer dan seniman membuat foto cocok dengan warna yang benar atau universal? Pertanyaan bagus. Salah satu caranya adalah melalui penggunaan color checker, jadi tanpa basa-basi lagi, mari kita definisikan color checker .
Baca Juga : 6 tool yang biasa digunakan untuk color grading
Apa itu color checker?
color checker adalah alat referensi warna yang digunakan oleh seniman fotografi untuk menciptakan reproduksi warna yang “nyata”. color checker memecahkan masalah reproduksi warna “tidak nyata” yang terjadi karena kamera, lensa, dan pencahayaan.
Cara menggunakan color checker
Color checker mungkin terdengar seperti perangkat yang sederhana untuk digunakan, tetapi sebenarnya membutuhkan beberapa penyesuaian dan pengetahuan fotografi tingkat lanjut untuk dapat menerapkannya.
Di bagian ini, kami akan menguraikan langkah demi langkah cara menggunakan color checker dengan contoh dari para profesional di bidangnya.
- Atur kamera Kamu ke perekaman RAW
Sebelum Kamu menggunakan color checker, pastikan kamera kamu disetel ke mode perekaman RAW. Megambil gambar dalam format RAW memungkinkan kamu menangkap gambar persis seperti yang terlihat di sensor.
- Perhatikan sumber cahaya kamu
Cahaya benar-benar mengubah tampilan warna pada kamera. Katakanlah Kamu menggunakan teknik tiga titik pencahayaan dengan key light, fill light, dan backlight, jangan hanya mencatat fakta bahwa kamu melakukannya, tetapi juga perhatikan suhu warna setiap sumber cahaya tersebut.
- Sesuaikan white balance kamu
white balance adalah bagian penting dari color grading dan color correction, dalam istilah yang paling sederhana, itulah yang diputuskan oleh kamera atau komputer sebagai default netral untuk warna putih. Jadi, bagaimana Kamu mengatur white balance?
Cukup ambil foto grey card di latar depan subjek dan gunakan alat white balance di Photoshop atau Lightroom. Ini akan menyebabkan pergeseran warna dan mengubah semua warna dalam ruang warna. Bagian pertama dari video selanjutnya dari Adorama ini menjelaskan cara mengkalibrasi white balance dengan benar.
Baca Juga : Mengenal Perbedaan Editing Offline vs Online Dalam Video Dan Film
- Keluarkan color checker
Ambil gambar subjek kamu dengan color checker di latar depan, seperti yang Kamu lakukan dengan grey card.

- Buka aplikasi Kalibrasi Kamera Color Checker

Aplikasi kalibrasi kamera akan secara otomatis mendeteksi warna asli dari color checker saat diimpor.
- Simpan profil warna
Di aplikasi kalibrasi kamera, simpan gambar Kamu sebagai profil warna untuk menerapkannya di Photoshop dan Lightroom.
- Sesuaikan kalibrasi kamera
Di Photoshop/Lightroom, buka tab “profil kamera” dan ubah default ke profil warna baru Kamu.









