<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>slog 3 | Commercial Production House | Jasa Video Company Profile</title>
	<atom:link href="https://eps-production.com/tag/slog-3/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://eps-production.com</link>
	<description>EPS PRODUCTION</description>
	<lastBuildDate>Tue, 20 Oct 2020 06:46:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.1.10</generator>

<image>
	<url>https://eps-production.com/wp-content/uploads/2026/03/cropped-HEADER-2-32x32.jpg</url>
	<title>slog 3 | Commercial Production House | Jasa Video Company Profile</title>
	<link>https://eps-production.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Mengenal S-LOG Sony Dan Mekanisme Kerjanya</title>
		<link>https://eps-production.com/mengenal-s-log-sony-dan-mekanisme-kerjanya/</link>
					<comments>https://eps-production.com/mengenal-s-log-sony-dan-mekanisme-kerjanya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2020 05:46:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Info]]></category>
		<category><![CDATA[film maker]]></category>
		<category><![CDATA[jasa video]]></category>
		<category><![CDATA[jasa video advertising]]></category>
		<category><![CDATA[jasa video bekasi]]></category>
		<category><![CDATA[Jasa Video Company Profile]]></category>
		<category><![CDATA[Jasa Video Company Profile Jabodetabek]]></category>
		<category><![CDATA[Jasa Video Iklan tvc]]></category>
		<category><![CDATA[jasa video jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Jasa Video Shooting]]></category>
		<category><![CDATA[Jasa Video Web Series]]></category>
		<category><![CDATA[sinematografi]]></category>
		<category><![CDATA[slog 2]]></category>
		<category><![CDATA[slog 3]]></category>
		<category><![CDATA[slog a6300]]></category>
		<category><![CDATA[slog a7iii]]></category>
		<category><![CDATA[slog adalah]]></category>
		<category><![CDATA[slog sony a7s]]></category>
		<category><![CDATA[Sony A7Siii]]></category>
		<category><![CDATA[videography]]></category>
		<category><![CDATA[vlog]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://eps-production.com/?p=5501</guid>

					<description><![CDATA[S-Log dikenal di kalangan videografer atau film-maker sebagai fitur dari kamera Sony a7S, a6300, dan seri-seri sejenisnya yang membuat warna yang dihasilkan sangat flat (pucat), yang justru sangat digemari oleh para pembuat film karena memudahkan color grading warna. S-Log akan membuat film kamu jadi kelihatan lebih cinematic atau memiliki looks film. Sebenarnya, S-Log hanya istilah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>S-Log dikenal di kalangan videografer atau film-maker sebagai fitur dari kamera Sony a7S, a6300, dan seri-seri sejenisnya yang membuat warna yang dihasilkan sangat flat (pucat), yang justru sangat digemari oleh para pembuat film karena memudahkan color grading warna. S-Log akan membuat film kamu jadi kelihatan lebih cinematic atau memiliki looks film.</p>
<p>Sebenarnya, S-Log hanya istilah yang diberikan oleh Sony, sedangkan pada kamera Canon kamu akan menemukan C-Log, di Panasonic kamu akan menemukan v-log, dan di kamera ARRI kamu akan menemukan LogC. Semuanya mempunyai prinsip teknologi yang sama.</p>
<p>Lalu apa yang membuat log-log ini begitu spesial?</p>
<p><img decoding="async" loading="lazy" class=" wp-image-5510 aligncenter" src="https://eps-production.com/wp-content/uploads/2020/10/SONY-SLOG-2-BEFORE-AFTER_EPS-PRODUCTION.jpg" alt="Jasa Video eps-production.com" width="1095" height="616" srcset="https://eps-production.com/wp-content/uploads/2020/10/SONY-SLOG-2-BEFORE-AFTER_EPS-PRODUCTION.jpg 1920w, https://eps-production.com/wp-content/uploads/2020/10/SONY-SLOG-2-BEFORE-AFTER_EPS-PRODUCTION-1080x608.jpg 1080w, https://eps-production.com/wp-content/uploads/2020/10/SONY-SLOG-2-BEFORE-AFTER_EPS-PRODUCTION-300x169.jpg 300w, https://eps-production.com/wp-content/uploads/2020/10/SONY-SLOG-2-BEFORE-AFTER_EPS-PRODUCTION-1024x576.jpg 1024w, https://eps-production.com/wp-content/uploads/2020/10/SONY-SLOG-2-BEFORE-AFTER_EPS-PRODUCTION-768x432.jpg 768w, https://eps-production.com/wp-content/uploads/2020/10/SONY-SLOG-2-BEFORE-AFTER_EPS-PRODUCTION-1536x864.jpg 1536w" sizes="(max-width: 1095px) 100vw, 1095px" /></p>
<p>Mungkin selama ini kamu melihatnya hanya dari “pucatnya” saja.</p>
<p>Sebetulnya bukan itu!</p>
<p>Singkatnya, S-Log adalah cara <a href="https://eps-production.com/sony-resmi-merilis-kamera-mirrorless-terbarunya-a7s-mark-iii-berikut-spesifikasi-dan-harganya/">kamera Sony</a> merekam cahaya dalam kurva logaritmik (log diambil dari kata logaritma). Dengan mengandalkan kurva ini, kamera bisa lebih maksimal menampilkan detil di area gelap dan terang yang biasanya sulit dicapai menggunakan setting-an kamera biasa.</p>
<p>Untuk lebih jelasnya, yuk kita bahas lebih dalam!</p>
<ol>
<li><strong>Mata manusia bekerja secara logaritmik</strong></li>
</ol>
<p><img decoding="async" loading="lazy" class=" wp-image-5507 aligncenter" src="https://eps-production.com/wp-content/uploads/2020/10/eys-vs-camera_eps-production.jpg" alt="" width="717" height="448" srcset="https://eps-production.com/wp-content/uploads/2020/10/eys-vs-camera_eps-production.jpg 750w, https://eps-production.com/wp-content/uploads/2020/10/eys-vs-camera_eps-production-300x188.jpg 300w" sizes="(max-width: 717px) 100vw, 717px" /></p>
<p>Kamu pasti mengeluh saat shooting di ruangan remang-remang. Karena hasilnya terlihat sangat gelap. Bisa saja kamu naikkan ISO supaya lebih terang, tapi hasilnya kotor (grain).</p>
<p>Sebaliknya, saat <a href="https://eps-production.com/">shooting</a> di siang bolong, langit begitu terang hingga detil awan menghilang, kontras sekali dengan objek di sekitarnya yang tampak lebih gelap. Bisa saja kamu naikkan shutter speed atau apperture supaya awannya muncul kembali, tapi sayangnya objek lainnya malah tambah lebih gelap lagi.</p>
<p>Di luar solusi-solusinya (memasang ND filter, ganti lensa, tambah lampu, dll).. pernahkah kamu bertanya: Mengapa kamera berperilaku seperti itu? Mengapa terangnya di mata tidak selalu sama dengan terangnya di kamera? Mengapa seringkali cahaya terlalu kontras bagi kamera hingga sulit sekali mendapatkan cahaya yang rata antara objek dan latarnya (seperti langit dan pohon)?</p>
<p>Jawabannya..</p>
<p>Karena mata melihat cahaya secara logaritmik, sedangkan kamera merekam cahaya secara linear, supaya kamu paham maksudnya, saya ilustrasikan sebagai berikut:</p>
<p>Bayangkan kamu ada di ruangan gelap dengan satu lilin. Lalu kamu tambahkan satu lilin lagi sehingga lilinnya jadi dua. Maka kamu akan mendapatkan ruangan 2x lebih terang dari sebelumnya, sekarang kamu tambahkan satu lilin lagi, jadi tiga lilin. Apa kamu mengira sekarang akan jadi terang 3x nya? Tidak!</p>
<p>Ruangan tadi akan tampak terang 3x nya kalau kamu tambahkan dua lilin (jadi total 4 lilin).</p>
<p>Mengapa begitu? Karena mata mengukur perubahan cahaya dari kondisi saat ini, bukan menghitung satuan lilin, untuk mendapatkan terang 2x dari saat ini, sumber cahaya pun harus dua kalinya dari saat ini.</p>
<p>Misalnya, karena sekarang kita memiliki 4 lilin, kamu harus menambahkan 4 lilin lagi untuk mendapatkan terang 2x nya dari saat ini, jadi total 8 lilin. Berikutnya harus ditambahkan 8 lilin, jadi total 16 lilin. Begitu seterusnya.</p>
<p>Kalau kita urutkan, jumlah lilin di setiap perubahan terangnya jadinya seperti ini:</p>
<p>1, 2, 4, 8, 16, 32, dst. Bukankah dalam matematika ini disebut deret logaritma?</p>
<div id="attachment_5504" style="width: 807px" class="wp-caption aligncenter"><img aria-describedby="caption-attachment-5504" decoding="async" loading="lazy" class=" wp-image-5504" src="https://eps-production.com/wp-content/uploads/2020/10/Log-Curve_eps-production.jpg" alt="Jasa Video eps-production.com" width="797" height="405" srcset="https://eps-production.com/wp-content/uploads/2020/10/Log-Curve_eps-production.jpg 985w, https://eps-production.com/wp-content/uploads/2020/10/Log-Curve_eps-production-300x152.jpg 300w, https://eps-production.com/wp-content/uploads/2020/10/Log-Curve_eps-production-768x390.jpg 768w" sizes="(max-width: 797px) 100vw, 797px" /><p id="caption-attachment-5504" class="wp-caption-text">Kalau kita plot, kurvanya akan tampak seperti gambar di bawah (sebelah kanan)</p></div>
<p><strong>Artinya?</strong></p>
<p>Artinya, di sisi gelap, mata manusia bisa menangkap perubahan yang cepat, sedangkan di sisi terang, mata manusia bisa menangkap perubahan secara perlahan-lahan (kurva semakin melandai ke kanan).</p>
<p>Dengan kata lain, mata manusia mampu beradaptasi terhadap cahaya sehingga tidak sampai kehilangan penglihatan baik di situasi minim cahaya, atau pun di situasi banyak cahaya. Itu sebabnya mata kita masih mampu melihat detil awan saat terik, sekaligus mampu melihat detil objek di sekitar bayangannya.</p>
<p>Ini yang tidak bisa ditiru oleh kamera. Karena secara umum, semua perangkat digital beroperasi secara linear dalam mempresentasikan data. Dalam contoh kita, kamera hanya menghitung jumlah lilin.</p>
<ol start="2">
<li><strong>S-Log “melengkungkan” cahaya</strong></li>
</ol>
<p><img decoding="async" loading="lazy" class="size-full wp-image-5505 aligncenter" src="https://eps-production.com/wp-content/uploads/2020/10/slog2-sony-curve-_eps-production.jpg" alt="" width="870" height="397" srcset="https://eps-production.com/wp-content/uploads/2020/10/slog2-sony-curve-_eps-production.jpg 870w, https://eps-production.com/wp-content/uploads/2020/10/slog2-sony-curve-_eps-production-300x137.jpg 300w, https://eps-production.com/wp-content/uploads/2020/10/slog2-sony-curve-_eps-production-768x350.jpg 768w" sizes="(max-width: 870px) 100vw, 870px" /></p>
<p>Cara kerja mata tadi kemudian dijadikan referensi untuk mengatasi kelemahan kamera.</p>
<p>Perhatikan dua kurva di gambar bawah. Sebelah kiri adalah kamera merekam cahaya secara linear, sedangkan sebelah kanan adalah kamera yang merekam secara logaritmik (s-log contohnya).</p>
<p>Perhatikan bahwa kalau kamera merekam secara linear, ada bagian yang terpotong karena sudah di luar batas cahaya yang bisa ditampilkan monitor. Otomatis pada batas ini, objek tampak putih begitu saja (seperti langit yang awannya menghilang).</p>
<p>Sedangkan kalau kamera merekam secara log, cahaya seolah dilengkungkan sehingga semuanya masuk di batas cahaya yang bisa ditampilkan monitor.</p>
<ol start="3">
<li><strong>Efek pucat S-Log</strong></li>
</ol>
<p>Akibat dari lengkungan cahaya yang dibuat s-log, gambar akan tampak pucat sekali, Itu karena s-log berupaya menekan cahaya sehingga tidak terlalu kontras sampai menyebabkan banyak detil yang hilang.</p>
<p><img decoding="async" loading="lazy" class="wp-image-5502 aligncenter" src="https://eps-production.com/wp-content/uploads/2020/10/SONY-SLOG-2_EPS-PRODUCTION-scaled.jpg" alt="Jasa Video eps-production.com" width="947" height="533" srcset="https://eps-production.com/wp-content/uploads/2020/10/SONY-SLOG-2_EPS-PRODUCTION-scaled.jpg 2560w, https://eps-production.com/wp-content/uploads/2020/10/SONY-SLOG-2_EPS-PRODUCTION-1080x608.jpg 1080w, https://eps-production.com/wp-content/uploads/2020/10/SONY-SLOG-2_EPS-PRODUCTION-300x169.jpg 300w, https://eps-production.com/wp-content/uploads/2020/10/SONY-SLOG-2_EPS-PRODUCTION-1024x576.jpg 1024w, https://eps-production.com/wp-content/uploads/2020/10/SONY-SLOG-2_EPS-PRODUCTION-768x432.jpg 768w, https://eps-production.com/wp-content/uploads/2020/10/SONY-SLOG-2_EPS-PRODUCTION-1536x864.jpg 1536w, https://eps-production.com/wp-content/uploads/2020/10/SONY-SLOG-2_EPS-PRODUCTION-2048x1152.jpg 2048w" sizes="(max-width: 947px) 100vw, 947px" /></p>
<p>Oleh karena itu, s-log memang diperuntukkan buat mereka yang merencanakan grading saat editing. Kalau tidak, gambar akan tampak tidak normal.</p>
<p>Lihat contoh hasil rekaman s-log dan hasil setelah digrading di video berikut :</p>
<p><iframe loading="lazy" title="Sony A7S III S-Log 3 COLOR GRADING TUTORIAL! Using Only Curves in Premiere Pro!" width="500" height="281" src="https://www.youtube.com/embed/fYlUTx2mVWY?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></p>
<p><strong>Apa bedanya dengan raw?</strong></p>
<p>Banyak yang mengira kalau log sama dengan raw, karena gambar seolah ‘mentah’.</p>
<p>Sebenarnya bedanya sangat jauh.</p>
<p>Kalau kamu shooting menggunakan raw, maka data yang diperoleh bukan berupa video. Kamu harus mengolahnya lagi sehingga menjadi sebuah file video.</p>
<p>Seperti kalau kamu menginstall Magic Lantern yang membuat DSLR bisa merekam dalam raw, hasilnya bukanlah mov atau mp4, tapi berupa potongan file-file mentah yang harus kamu gabungkan menjadi <a href="https://eps-production.com/">video</a> di photoshop.</p>
<p>Karena raw adalah data mentah atau data asli yang keluar dari sensor, maka kualitas gambar yang dihasilkan raw berada di atas s-log dan hasil rekaman biasa (non log). Tapi memori yang dibutuhkan sangat besar. Hanya film-film layar lebar dengan kamera-kamera mahal (seperti <a href="https://eps-production.com/5-kamera-sinema-yang-sering-digunakan-untuk-pembuatan-film-hollywood/">RED, ARRI, dan Imax</a>) yang biasanya menggunakan raw.</p>
<p>Sedangkan log hanya memanipulasi cahaya yang bisa masuk dalam standar kebutuhan video biasa. Hasilnya juga langsung menjadi sebuah video.</p>
<p>Baca Juga :</p>
<p><a href="https://eps-production.com/5-jenis-drone-beserta-fungsinya-yang-wajib-kamu-tau/">5 Jenis Drone Dan Fungsinya</a></p>
<p><a href="https://eps-production.com/8-perbedaan-lensa-foto-dan-lensa-movie-cinema-kamu-udah-tau/">8 Perbedaan Lensa Foto Dan Lensa Movie Cinema</a></p>
<p><a href="https://eps-production.com/4-alasan-penting-dan-manfaat-memiliki-video-company-profile/">4 Alasan Penting Dan Manfaat Memiliki Video Company Profile</a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://eps-production.com/mengenal-s-log-sony-dan-mekanisme-kerjanya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
